Jumat, 18 April 2014

Lanjutan 1~~

Keesokan harinya, Dinda duduk termenung memandangi setiap sudut rumahnya.

Andai saja aku bisa membantu Mama dan Papa, andai aku bisa membayar semua hutang Mama papa. Ga akan aku biarkan papa bekerja. Apalagi dengan tempat yang ga bisa di tempuh dengan waktu singkat. Papa tidak muda lagi, sudah sepantasnya papa beristirahat dirumah bersama mama.

 “cemberut mulu. Jelek tau” ledek Fadil.  “udah dari lahir ! kapan pulang?” Tanya Dinda kesal.
“ga penting. Udah sana bikinin kakak minum, katanya adik yang baik. Sini Hpnya.” Rebut Fadil.
“kak jangan.. cepet balikin !” perintah Dinda kesal.
Ponsel Dinda pun bergetar
“kak itu ada pesan, cepetan…” Teriak Dinda. “biarain wee” jawab Fadil


Dinda kemana sih kok ga beles-bales. Apa gue langsung ke rumah dia aja yah? Dirumah atau ga itu masalah belakangan deh.

Andre pun menuju ke rumah Dinda meskipun tanpa balasan dari Dinda.

15 menit kemudian terdengar suara sepeda motor menuju rumahnya. Dinda seketika merebut ponsel miliknya dari tangan Fadil dan membaca pesan yang masuk.


                                                                     From : Andre
Din, kamu dirumah? aku ke tempatmu sekarang yaa..


 Aduuhh gawat, dia udah sms dari tadi. Pasti udah nunggu lama.
“tuh kan kaka sih, temenku sms dari tadi. Sampe dia udah kesini baru aku liat pesannya” sewot Dinda

Dinda pun keluar rumah menemui Andre.
“hai ndre, maaf ya aku baru baca pesanmu. Tadi hpku di rebut kakaku.” Jelas Dinda. “kakak?” Tanya Andre heran. “iyaa.. kak Fadil. Ayo masuk ndre”. “ga usah, aku pulang aja ya? Udah sore” tolak Andre. “ayolah masuk sebentar” bujuk Dinda

Akhirnya dengan terpaksa Andre menuruti Dinda untuk masuk ke dalam rumahnya. Meskipun Dengan hati yang tidak karuan. Karena dia tahu di dalam sana ada seseorang yang selalu membuatnya takut, takut kehilangan Dinda.

 “mah, ini Andre” teriak Dinda. “ya sebentar”. “jangan teriak-teriak ih” cetus Fadil. “apa sih ka? Sewot mulu.”
“heh heh,, berantem terus. Udah Fadil jangan ngledekin adikmu terus dong” mama mencoba menengahi.
“nak Andre udah lama?” Tanya mama Dinda. “lumayan bu, hehe..tapi ini udah sore bu mau pamit dulu.” Jawab Andre.
Kemudian Andre beranjak berdiri dari kursi.
“ko cepet banget sih ndre? Kan baru tadi?” Tanya Dinda dengan raut wajah kecewa. “lain kali main lagi ko, aku pulang yaa.. assalamu’alaikum”. “wa’alaikum salam ndre hati-hati”

Andre pulang dengan rasa sedih. Sedih melihat kedekatan Dinda dengan Fadil. Andre tidak pernah lupa bahwa Fadil adalah kakak Dinda. Mereka dekat sejak Dinda kecil. Tapi bagaimanapun, Andre bukan kakak  kandung Dinda. Dia hanyalah anak pesantren yang dekat dengan ayah Dinda dan telah dianggap keluarga dalam rumah Dinda. Tapi bukan tidak mungkin Fadil menyukai Dinda dan merampas Dinda dari kehidupannya.


Malam harinya, Dinda memutuskan menumpang tidur di tempat eyangnya. Karena pagi harinya, Dinda akan pergi jalan-jalan bersama Andre. Dan alasan lain kenapa Dinda ingin menginap di tempat eyang, ini adalah masalah  hati. Dinda berharap, malam ini hubungan mereka pasti. Dinda ingin berbicara seleluasa mungkin, bertanya sejelas mungkin tentang perasaan Andre kepadanya.

 “……………………………………….”
“Ndre, aku mau cerita”
“cerita apa Din?”
“Ndre, kayanya aku  lagi suka sama cowo deh. Tapi aku ga tahu perasaan dia, dan aku ga pernah berani ungkapin apa yang aku rasa. Rasa ini muncul tiba-tiba. Sebenernya aku sering ungkapin isi hati aku, tapi sayangnya dia Cuma anggep semua itu lelucon. Karena emang cara aku nyampein ga bener-bener serius. Aku takut dia tahu hatiku, dan dia pergi ninggalin aku”
“siapa dia?”
“kamu.. hehe,, bukan lah… Ada deh, yang pasti kamu tahu orang itu dan kamu lebih mengenal dia dari pada aku. Tadi sore dia baru telfon aku dan dia bilang, hatinya udah ada yang nempatin. Sakiiit banget rasanya waktu denger dia bilang gitu ndre. Tolong sampein ya, kalo aku sayang sama dia.” Suara Dinda mulai lemah

Aku lebih mengenal dia? Telfon tadi sore? Dan hatinya udah ada yang nempatin? Bukannya tadi sore Dinda telfon sama aku dan dalam bercandaan kami, aku bilang hatiku udah ada yang nempatin? Ya Allah, apa orang itu aku? Apa benar Dinda menyukaiku? Jujur aku menyayangimu Dinda, tapi bagaimana dengan Dewi? Ya Allah aku telah membuat Dinda sakit seperti ini.

ndre? Kenapa diem?
“eh iya Dinda, tadi aku udah sampein ke dia.. dan dia bilang, di hatinya emang bener-bener udah ada yang nempatin .”
Dan akhirnya Andre memberanikan diri mencoba berbicara jujur
“ Ya Dinda. di sini, di hatiku ini udah ada seseorang yang jauh lebih dulu masuk dari pada kamu. Aku Cuma anggep kamu adik Din, ga lebih.”
Dinda tersentak mendengar jawaban Andre. Dia tidak menyangka bahwa Andre akan secepat ini mengetahui bahwa dirinya lah yang Dinda maksud.
“apa wanita itu Dewi? Yang memanggilmu dengan sebutan abi?”
“yaaa..”
“Jadi? Gantungan huruf D itu? Nama yang pernah ibumu sebut sewaktu di telfon itu? Kenapa? Kenapa kamu berikan aku harapan kalo kamu ga sayang aku ndre? Aku sayang kamu, entah sejak kapan dan entah karena apa. Yang jelas, aku juga tidak mengenal diriku saat ini. Kenapa aku berani mengutarakan perasaanku? Dan kenapa aku berani untuk sakit saat ini. Kenapa kamu kasih aku harapan?” Suara Dinda lirih diiringi dengan air mata yang mulai menetes.
“aku sayang kamu Din”
“sebagai adik? Iya? “
Bukan Din bukan, aku sayang kamu lebih dari seorang adik. Andai aku bisa mengatakan itu, dan andai saat ini aku mampu menghapus air matanya. Sudah Din sudah jangan menangis, hatiku sakit mendegar kamu menangis seperti ini.
“yaa, tapi aku ga mau hubungan pertemanan kita terputus”
“Enak banget kamu ngomong ndre, kamu ga tau kan gimana senengnya aku waktu ketemu kamu pertama kali? Kamu juga ga tau kan gimana aku ga bisa menepis bayangmu walau sebentar? Dan yang paling ga kamu tau, gimana sakitnya aku waktu kamu bilang  kamu Cuma anggep aku adik. Kamu ga tau kan ndre?  Tangis Dinda semakin menjadi.

Tut.. tut.. tut…

Dinda tidak sanggup terlalu lama mendengar suara Andre. Dia terus menangis, menangis, dan menangis. Malam dia habiskan dengan alunan isak tangis dan rasa sakit yang begitu mendalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar