Keesokan harinya, Dinda duduk termenung
memandangi setiap sudut rumahnya.
Andai saja aku
bisa membantu Mama dan Papa, andai aku bisa membayar semua hutang Mama papa. Ga
akan aku biarkan papa bekerja. Apalagi dengan tempat yang ga bisa di tempuh
dengan waktu singkat. Papa tidak muda lagi, sudah sepantasnya papa beristirahat
dirumah bersama mama.
“cemberut
mulu. Jelek tau” ledek Fadil. “udah dari
lahir ! kapan pulang?” Tanya Dinda kesal.
“ga penting. Udah sana bikinin kakak minum,
katanya adik yang baik. Sini Hpnya.” Rebut Fadil.
“kak jangan.. cepet balikin !” perintah Dinda
kesal.
Ponsel Dinda pun bergetar
“kak itu ada pesan, cepetan…” Teriak Dinda.
“biarain wee” jawab Fadil
Dinda kemana sih kok ga beles-bales. Apa gue
langsung ke rumah dia aja yah? Dirumah atau ga itu masalah belakangan deh.
Andre pun menuju ke rumah Dinda meskipun tanpa
balasan dari Dinda.
15 menit kemudian terdengar suara sepeda motor
menuju rumahnya. Dinda seketika merebut ponsel miliknya dari tangan Fadil dan
membaca pesan yang masuk.
From : Andre
Din, kamu dirumah? aku ke tempatmu sekarang yaa..
Aduuhh gawat,
dia udah sms dari tadi. Pasti udah nunggu lama.
“tuh kan kaka sih, temenku sms dari tadi.
Sampe dia udah kesini baru aku liat pesannya” sewot Dinda
Dinda pun keluar rumah menemui Andre.
“hai ndre, maaf ya aku baru baca pesanmu. Tadi
hpku di rebut kakaku.” Jelas Dinda. “kakak?” Tanya Andre heran. “iyaa.. kak
Fadil. Ayo masuk ndre”. “ga usah, aku pulang aja ya? Udah sore” tolak Andre.
“ayolah masuk sebentar” bujuk Dinda
Akhirnya dengan terpaksa Andre menuruti Dinda
untuk masuk ke dalam rumahnya. Meskipun Dengan hati yang tidak karuan. Karena
dia tahu di dalam sana ada seseorang yang selalu membuatnya takut, takut
kehilangan Dinda.
“mah,
ini Andre” teriak Dinda. “ya sebentar”. “jangan teriak-teriak ih” cetus Fadil.
“apa sih ka? Sewot mulu.”
“heh heh,, berantem terus. Udah Fadil jangan
ngledekin adikmu terus dong” mama mencoba menengahi.
“nak Andre udah lama?” Tanya mama Dinda.
“lumayan bu, hehe..tapi ini udah sore bu mau pamit dulu.” Jawab Andre.
Kemudian Andre beranjak berdiri dari kursi.
“ko cepet banget sih ndre? Kan baru tadi?”
Tanya Dinda dengan raut wajah kecewa. “lain kali main lagi ko, aku pulang yaa..
assalamu’alaikum”. “wa’alaikum salam ndre hati-hati”
Andre pulang dengan rasa sedih. Sedih melihat
kedekatan Dinda dengan Fadil. Andre tidak pernah lupa bahwa Fadil adalah kakak
Dinda. Mereka dekat sejak Dinda kecil. Tapi bagaimanapun, Andre bukan kakak kandung Dinda. Dia hanyalah anak pesantren
yang dekat dengan ayah Dinda dan telah dianggap keluarga dalam rumah Dinda.
Tapi bukan tidak mungkin Fadil menyukai Dinda dan merampas Dinda dari
kehidupannya.
Malam harinya, Dinda memutuskan menumpang
tidur di tempat eyangnya. Karena pagi harinya, Dinda akan pergi jalan-jalan
bersama Andre. Dan alasan lain kenapa Dinda ingin menginap di tempat eyang, ini
adalah masalah hati. Dinda berharap, malam
ini hubungan mereka pasti. Dinda ingin berbicara seleluasa mungkin, bertanya sejelas
mungkin tentang perasaan Andre kepadanya.
“……………………………………….”
“Ndre, aku mau cerita”
“cerita apa Din?”
“Ndre, kayanya aku lagi suka sama cowo deh. Tapi aku ga tahu perasaan dia, dan aku ga pernah berani ungkapin apa yang aku rasa. Rasa ini muncul tiba-tiba. Sebenernya aku sering ungkapin isi hati aku, tapi sayangnya dia Cuma anggep semua itu lelucon. Karena emang cara aku nyampein ga bener-bener serius. Aku takut dia tahu hatiku, dan dia pergi ninggalin aku”
“Ndre, kayanya aku lagi suka sama cowo deh. Tapi aku ga tahu perasaan dia, dan aku ga pernah berani ungkapin apa yang aku rasa. Rasa ini muncul tiba-tiba. Sebenernya aku sering ungkapin isi hati aku, tapi sayangnya dia Cuma anggep semua itu lelucon. Karena emang cara aku nyampein ga bener-bener serius. Aku takut dia tahu hatiku, dan dia pergi ninggalin aku”
“siapa dia?”
“kamu.. hehe,, bukan lah… Ada deh, yang pasti kamu tahu orang itu dan kamu lebih mengenal dia dari pada aku. Tadi sore dia baru telfon aku dan dia bilang, hatinya udah ada yang nempatin. Sakiiit banget rasanya waktu denger dia bilang gitu ndre. Tolong sampein ya, kalo aku sayang sama dia.” Suara Dinda mulai lemah
“kamu.. hehe,, bukan lah… Ada deh, yang pasti kamu tahu orang itu dan kamu lebih mengenal dia dari pada aku. Tadi sore dia baru telfon aku dan dia bilang, hatinya udah ada yang nempatin. Sakiiit banget rasanya waktu denger dia bilang gitu ndre. Tolong sampein ya, kalo aku sayang sama dia.” Suara Dinda mulai lemah
Aku lebih
mengenal dia? Telfon tadi sore? Dan hatinya udah ada yang nempatin? Bukannya
tadi sore Dinda telfon sama aku dan dalam bercandaan kami, aku bilang hatiku
udah ada yang nempatin? Ya Allah, apa orang itu aku? Apa benar Dinda
menyukaiku? Jujur aku menyayangimu Dinda, tapi bagaimana dengan Dewi? Ya Allah
aku telah membuat Dinda sakit seperti ini.
“ndre? Kenapa diem?
“eh iya Dinda, tadi aku udah sampein ke dia..
dan dia bilang, di hatinya emang bener-bener udah ada yang nempatin .”
Dan akhirnya Andre memberanikan diri mencoba
berbicara jujur
“ Ya Dinda. di sini, di hatiku ini udah ada
seseorang yang jauh lebih dulu masuk dari pada kamu. Aku Cuma anggep kamu adik
Din, ga lebih.”
Dinda tersentak mendengar jawaban Andre. Dia
tidak menyangka bahwa Andre akan secepat ini mengetahui bahwa dirinya lah yang
Dinda maksud.
“apa wanita itu Dewi? Yang memanggilmu dengan
sebutan abi?”
“yaaa..”
“yaaa..”
“Jadi? Gantungan huruf D itu? Nama yang pernah
ibumu sebut sewaktu di telfon itu? Kenapa? Kenapa kamu berikan aku harapan kalo
kamu ga sayang aku ndre? Aku sayang kamu, entah sejak kapan dan entah karena
apa. Yang jelas, aku juga tidak mengenal diriku saat ini. Kenapa aku berani
mengutarakan perasaanku? Dan kenapa aku berani untuk sakit saat ini. Kenapa
kamu kasih aku harapan?” Suara Dinda lirih diiringi dengan air mata yang mulai
menetes.
“aku sayang kamu Din”
“sebagai adik? Iya? “
Bukan Din
bukan, aku sayang kamu lebih dari seorang adik. Andai aku bisa mengatakan itu,
dan andai saat ini aku mampu menghapus air matanya. Sudah Din sudah jangan
menangis, hatiku sakit mendegar kamu menangis seperti ini.
“yaa, tapi aku ga mau hubungan pertemanan kita
terputus”
“Enak banget kamu ngomong ndre, kamu ga tau
kan gimana senengnya aku waktu ketemu kamu pertama kali? Kamu juga ga tau kan
gimana aku ga bisa menepis bayangmu walau sebentar?
Dan yang paling ga kamu tau, gimana sakitnya aku waktu kamu bilang kamu Cuma anggep aku adik. Kamu ga tau kan
ndre? Tangis Dinda semakin menjadi.
Tut.. tut.. tut…
Dinda tidak sanggup terlalu lama mendengar
suara Andre. Dia terus menangis, menangis, dan menangis. Malam dia habiskan
dengan alunan isak tangis dan rasa sakit yang begitu mendalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar