Sebuah perjalanan cinta seorang gadis yang di lahirkan dari sebuah keluarga
sederhana. Kali pertama gadis berwajah lonjong ini di izinkan dekat dengan
seorang lelaki. Bukan tidak mengetahui, tetapi orang tua gadis mungil ini jauh lebih
mengerti tentang hubungan mereka tanpa di ceritakan. Mengerti bahwa gadis semata wayangnya kini bukan
lagi gadis kecil yang merengek saat
meminta sesuatu, tapi gadis kecil mereka telah tumbuh menjadi gadis yang
dewasa. Rasa yang timbul berawal dari ketidaksengajaan, berjalan seiring
berputarnya waktu, dan mengalir searah garis kehidupan.
Perjalanan cinta yang tak selalu
lurus, banyak kelok dan tanjakan laksana seorang pendaki dengan perjuangan
mencapai puncak gunung. Ada kala dimana
rasa lelah menggerogoti, bahkan tak jarang lelah itu memaksa untuk berhenti.
Sedangkan puncak tertinggi masih jauh di ujung langit sana. Dengan tetesan air
mata, dan dengan beribu tekad dia bulatkan niat terus berjalan, langkah demi
langkah menyatukan kekuatan menjemput keindahan dari atas sana. Dengan prinsip
dan keyakinan itu, tidak ada alasan untuk mereka berhenti dan menyerah
memperjuangkan pelangi cinta.
______________________________________________________________________________________________________
“Ayo
jalan” Suara yang seakan tak asing lagi di telinganya, seketika menghentakkan
jantung gadis itu. Sekejap dia berdiri dan melupakan tali sepatunya yang
terlepas.
“eh iya, kamu?? “ (dengan wajah penuh Tanya)
Sambil
menyodorkan senyum yang dapat membuat setiap wanita terpesona dalam sekali pandang itu, diapun menjawab “aku
Andre”. “hahahaa.. sorry sorry, aku kira
tadi bukan kamu.” Jawab Dinda
“Ya
gapapa, ayo kita jalan” ajak Andre.
Mereka
berjalan dan berbincang membicarakan apa saja seperti di telfon. Meskipun
sepertinya Dinda terlihat agak canggung karena memang ini pertemuan pertama
mereka. Jelas Mereka kikuk. Apalagi Dinda gadis pemalu yang tak semudah itu
akrab dengan orang lain. Kecuali Andre lelaki bertubuh tinggi yang sekarang berada di
sampingnya itu.
“Aku
antar pulang ya? “ tawar Andre dengan ramahnya
“mm.. boleh tapi sampai situ saja yaa,” jawab Dinda dengan mengacungkan salah satu jari menunjuk arah yang di maksud. “sampai rumahmu juga tidak papa, apa kamu malu jalan berdua denganku?” (Tampak rasa kecewa di wajah Andre). “oh bukan, aku hanya tidak enak dengan tetangga. Ini masih pagi. Kamu mengerti bukan maksudku?” Dinda mencoba menjelaskan. “yasudah, aku mengerti.”
“mm.. boleh tapi sampai situ saja yaa,” jawab Dinda dengan mengacungkan salah satu jari menunjuk arah yang di maksud. “sampai rumahmu juga tidak papa, apa kamu malu jalan berdua denganku?” (Tampak rasa kecewa di wajah Andre). “oh bukan, aku hanya tidak enak dengan tetangga. Ini masih pagi. Kamu mengerti bukan maksudku?” Dinda mencoba menjelaskan. “yasudah, aku mengerti.”
Meski
baru sebentar mereka saling mengenal, namun mereka terlihat seperti kawan lama
yang tidak pernah bertemu. Dan meski jarak umur mereka 6 tahun, tapi apapun
yang mereka bicarakan selalu terasa meyenangkan dan 1 jam 2 jam.. itu bukan waktu yang lama bagi
mereka jika mereka sedang ngobrol.
“Nah,
sudah sampai Ndre. Makasih ya udah nganterin aku. Aku seneng banget bisa ketemu
kamu.” Ungkap Dinda. “Aku juga Din,
rasanya aku tidak ingin berpisah denganmu… hehehe”. “kita kaya udah kenal lama yah ndre?”. “iya aku juga ngerasa gitu Din,” timpal
Andre.
Setelah menghembuskan nafas panjang, dengan beratnya Dinda memberanikan diri mengakhiri perbincangan mereka. “Ndre, aku pulang dulu yaa.. ” (melepas genggaman tangan mereka)
“mm.. iya hati-hati Dinda ” jawab Andre dengan berat hati.
Setelah menghembuskan nafas panjang, dengan beratnya Dinda memberanikan diri mengakhiri perbincangan mereka. “Ndre, aku pulang dulu yaa.. ” (melepas genggaman tangan mereka)
“mm.. iya hati-hati Dinda ” jawab Andre dengan berat hati.
Dinda
mulai menggerakkan kakinya, langkah demi langkah. Dan sepertinya dia tidak bisa
berhenti memikirkan lelaki yang baru di kenalnya beberapa minggu ini .
Padahal baru beberapa minggu
kenal, itupun baru pertama kali ini aku bertemu dengan dia. Tapi kok kaya udah
kenal lama yah? Emm.. Entahlah apapun itu, keramahannya dan sikap pedulinya itu
membuat aku tidak bisa jauh dari dia. Baru pisah tadi, udah kangen aja nih..
hihihi
______________________________________________________________________________________________________
Sesampainya
di rumah, Dinda terus memandangi layar ponselnya.
“tuk.. tuk.. tuk.. “ suara jari Dinda mengetok-ngetok ponsel miliknya.
“huuh.. kenapa dia ga telfon? Padahal gue kangen. Apa dia ga kangen gue?” Dinda menggerutu sendiri
Beberapa menit kemudian ponselnya berdering .
“halo.. assalamu’alaikum Andre”.
“tuk.. tuk.. tuk.. “ suara jari Dinda mengetok-ngetok ponsel miliknya.
“huuh.. kenapa dia ga telfon? Padahal gue kangen. Apa dia ga kangen gue?” Dinda menggerutu sendiri
Beberapa menit kemudian ponselnya berdering .
“halo.. assalamu’alaikum Andre”.
“ya
Dinda, kamu lagi sibuk?”.
“oh ga Andre, hhehe”
“em.. aku kangen sama kamu. Padahal baru tadi ketemu yah?”
“Aku juga Ndre kangen.. hehe” Andai Andre tahu dari tadi aku terus mikirin dia. Hihihi ..
“astaghfirulloh..” Dinda tersentak kaget melihat jam tengah menunjukkan pukul 09.00
“Kenapa Din?” Tanya Andre.
“em.. aku kangen sama kamu. Padahal baru tadi ketemu yah?”
“Aku juga Ndre kangen.. hehe” Andai Andre tahu dari tadi aku terus mikirin dia. Hihihi ..
“astaghfirulloh..” Dinda tersentak kaget melihat jam tengah menunjukkan pukul 09.00
“Kenapa Din?” Tanya Andre.
“Ndre maaf banget, aku lupa kalo hari ini aku
ada janji dengan teman-temanku”
“oh,
yaudah kalo gitu nanti aku anter kamu yah. Jam berapa?”
“emm jam 10. Gausah ndre, nanti aku naik bus aja.”
“Tapi Din…”
“emm jam 10. Gausah ndre, nanti aku naik bus aja.”
“Tapi Din…”
“Sudah,
aku bisa sendiri.” Potong Dinda.
Dinda memang gadis yang sedikit keras kepala. Dia paling tidak suka merepotkan orang lain. Kecuali dalam keadaan mendesak.
Dinda memang gadis yang sedikit keras kepala. Dia paling tidak suka merepotkan orang lain. Kecuali dalam keadaan mendesak.
Sesampainya Di jalan raya, Dinda menunggu bus bersama ibunya yang kebetulan ada keperluan, sekalian menunggu Dinda naik bus. Tiba-tiba Hp Dinda bergetar
From : Andre
De, aku anter ya? :D
Aduh.. nih anak bandel banget
sih dibilang gausah juga. Gue takut ketahuan ibu jalan sama cowo.
From :Dinda
Gusah Ndre, aku naik bus aja ya? :)
Yah,, yaudah lah
kalo Dinda gamau gue anter. Sebenernya sih gue pengen banget nganterin dia. Tapi
ga mungkin juga gue maksa dia. Kok Hp gue geter lagi? Pasti Dinda nih berubah
fikiran..hihihi
From : Dimas
Bro, songong amat lu kaga main. udah kaga inget gue lu ya?
“Huft..
gue kira Dinda, Ternyata Dimas. Terlalu berharap gue. Dari pada sendirian
dirumah mending main aja kali yah. Dinda juga pasti bakal sibuk sama
temen-temennya disana.” Celoteh Andre
Setelah
30 menit lebih Dinda menunggu bus, tidak ada satu bus pun yang lewat.
“aduh ma, gimana nih udah telat”. “sabar sayang, bentar lagi mudah-mudahan ada” mama mencoba menenangkan. Apa gue minta tolong anterin Andre yah? Tapi… gimana cara ngomong ke mama? duh..
“aduh ma, gimana nih udah telat”. “sabar sayang, bentar lagi mudah-mudahan ada” mama mencoba menenangkan. Apa gue minta tolong anterin Andre yah? Tapi… gimana cara ngomong ke mama? duh..
“mm..
mah, Dinda minta tolong anterin kak Andre boleh?” Tanya Dinda hati-hati. “Andre? Siapa dia?”
“Dia.. dia kaka kelas SMP Dinda mah.. boleh?”. “Yaudah karena busnya ga ada, kamu boleh dianter”
“beneran? Makasih mama”. hihihi.. asik gue boleh dianter Andre
“Dia.. dia kaka kelas SMP Dinda mah.. boleh?”. “Yaudah karena busnya ga ada, kamu boleh dianter”
“beneran? Makasih mama”. hihihi.. asik gue boleh dianter Andre
To : Andre
Ndre, kamu bisa anter aku ga?? busnya ga ada dari tadi nih
sorry ya ngerepotin kamu. :)
sorry ya ngerepotin kamu. :)
Sudah setengah jam lebih Andre main di tempat
Dimas sahabat karibnya sejak kecil.
“Jam berapa sekarang Ndre? Jam rumah gue
kebetulan mati nih”. “bentar gue liat HP. (mengeluarkan HP dari kantong
celananya)”. “jam berapa? Ndre? Lama amat sih lu”. “ Astaghfirulloh.. ”
“kenapa Ndre?“ Tanya Dimas. “gue harus pergi
sekarang Dim…” Andre langsung lari meninggalkan Dimas tanpa sempat menjawab
pertanyaannya.
From :Andre
iya aku kesitu sekarang
“itu
dia ma.” Terang Dinda dengan mengarahkan matanya pada salah satu sepeda motor
yang sedang berjalan. “maaf telat.. hehe”. “ketawa huu.. ini mamahku Ndre”
“oh
ibu, assalamu’alaikum” sapa Andre dengan ramah
“Wa’alaikum salam.. oh ini nak Andre? Nitip Dinda ya, maaf merepotkan.”. “ah ibu engga kok.”
“yuk Ndre, mah Dinda berangkat dulu ya.” (mencium ibunya). “ya hati-hati”
“Wa’alaikum salam.. oh ini nak Andre? Nitip Dinda ya, maaf merepotkan.”. “ah ibu engga kok.”
“yuk Ndre, mah Dinda berangkat dulu ya.” (mencium ibunya). “ya hati-hati”
Ditengah
perjalanan Andre membuka pembicaraan.
“lama
yah tadi?” Tanya Andre. “ga! Sebentar ko. Cuma 25 menit lebih 59 detik.” Jawab
Dinda sewot.
“jangan sewot gitu dong, tadi kamu bilang ga mau dianter. Ya aku main tempat temen.. hehehehe”
“jangan sewot gitu dong, tadi kamu bilang ga mau dianter. Ya aku main tempat temen.. hehehehe”
“huu
dasar” cetus Dinda. “maaf deh, udah dong jangan cemberut gitu. Ntar cantiknya
hilang loh..”
“hahahahaha” mereka tertawa bersama.
“hahahahaha” mereka tertawa bersama.
Malam
harinya, Dinda duduk menatap buku diary miliknya. Apapun yang dia alami, dia
akan menuliskan di buku itu. Hobi menulisnya di tekuni semenjak dia menduduki
bangku kelas 2 SMA. Dan impiannya, suatu hari nanti tulisan-tulisannya itu akan
mendatangkan kesuksesan untuk masa depannya.
Hari ini, aku dianterin dia
ke tempat temen. Meski baru beberapa minggu kenal, tapi kedekatan kami seakan
begitu cepat. Aku suka senyumnya, aku suka cara dia menatapku, aku suka cara
dia berbicara denganku yang membuatku merasa menjadi wanita yang sangat di
hargai. Kelembutan dan ketulusan hatinya melambungkan hatiku. Apa ini artinya
aku mulai menyukainya? Ya Allah.. begitu cepat perasaan ini datang?
Jam
dinding telah menunjukkan pukul 21.30, Ditutupnya buku diary itu dan
menyimpannya kedalam tas. Dinda beranjak
tidur dan mengulurkan selimut ke seluruh tubuhnya.
Selamat tidur kak Andre,
mimpi indah. Batin
Dinda
Sembari
memejamkan mata lelaki bertubuh tinggi itupun terus memikirkan Dinda, gadis
mungil yang selalu membuatnya tersenyum tiap kali mengingatnya. Selamat tidur Dinda, mimpi indah
Tiba-tiba
Hpnya bergetar. “Dinda?” pikir Andre
From : Dewi
Sayang? Udah tidur yah?
Di letakkan kembali ponselnya, dan kembali
memejamkan mata. Tapi tiba-tiba Andre terbangun terkagetkan oleh bunyi ponselnya.
“ya assalamu’alaikum”
“ya assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam ndre, udah tidur yah?”
“baru memejamkan mata aja ko”
“ndre, maaf udah malem telfon. Aku mau Tanya, Cewe yang sering ngobrol sama kamu di facebook itu siapa?”
Jantung Andre tersentak mendengar pertanyaan
itu.
“emm.. itu? Adik kelasku sayang”
“tapi kok keliatan deket banget? Kamu suka
dia?”
Pertanyaan demi pertanyaan terus menghujamnya membuat dadanya terasa sesak.
“aku hanya menganggapnya adik. Sudah lah, udah malem mending kita tidur dulu. Besok kan kamu harus kerja.” Jawab Andre dengan gugup
“yaudah, assalamu’alaikum.. selamat tidur sayang”
Pertanyaan demi pertanyaan terus menghujamnya membuat dadanya terasa sesak.
“aku hanya menganggapnya adik. Sudah lah, udah malem mending kita tidur dulu. Besok kan kamu harus kerja.” Jawab Andre dengan gugup
“yaudah, assalamu’alaikum.. selamat tidur sayang”
“wa’alaikum salam”
Lelaki macam
apa aku ini? Aku mempermainkan hati dua orang wanita. Ya Allah, harus bagaimana
aku sekarang? Aku terjebak dalam lubang yang aku sendiri menikmatinya. Aku
menyayangi Dinda, tapi bagaimana dengan Eli? Wanita yang saat ini masih berada
dalam hatiku? meski tidak sepenuhnya. Aku tidak mungkin menyakiti keduanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar